romansa ini bukan tentang kamu.

kita tertawa lepas melepas penat ketika kau melepas sebuah hembusan asap rokok melambung melewati kaca mobil gelap , bercinta dengan asap karbon knalpot motor ditengah bunyi klakson mobil yang tak sabar ingin menerobos lampu merah.

sayangnya,romansa ini bukan tentang kamu.

kamu duduk menyetel keras keras bunyi stereo memainkan lagu lagu britpop ketika jam menunjukkan pukul 11 malam melewati wangi wangi makanan yang dijajakan warung warung remang di pinggiran sabang ketika kita mencari tempat untuk menghabiskan waktu bersama alkohol.

sayangnya,romansa ini bukan tentang kamu.

kamu melihat kiri dan kanan dibalik jalan jalan sempit mencari cari jalan keluar , sepertinya ini sudah keempat kalinya kita kehilangan arah padahal kamu adalah cinderella yang harus pulang.

sayangnya,romansa ini bukan tentang kamu.

hujan pagi hari,terik siang hari,kemacetan malam hari,sendiri atau tidak kamu tetap menemaniku berlari,entah itu dari kenyataan ataupun kepenatan.

ya sayang,kamulah romansaku.

amor fati

it was around 1 am in the morning,someone is knock at my door. when i open the door,i found her standing in front of my porch. she looks cold but she smiled at me. she doesn’t say anything.  i could not asked more but offer her to come in.

and as i welcome her to get in,she step carefully into my sofa. and then she land herself in the most polite and modest way. a remarks that carefully explained to me that she’s here uninvited,but also known that she was a guest.

i put a tea on kettle for her then i pour it into my clean but plain cup and i offer her some biscuit. i could not offer much since everything came suddenly.

she picked up the cup and sip it slowly and says that the tea is little bit bitter but it’s okay. she also took the biscuit and bit it in well - mannered movement. everything was a ladylike.

and then i took a seat beside her. the night felt twice cold. she begin to tell me a story. i could listen to her saying but it’s not what i want to hear. the thing i want to hear is why she’s here right now,in the middle of the night !

and then two or three minute after she stop talking and looking into my eyes. all i could read from her is,”you asked me to come,yet you didn’t say anything”.

and i felt really confused. did i phone her to come or something ?

and after that,i could told by her face that she begin to feel annoyed by my silence. i tried to bring up topic by told her some story and ask her something but she just replied everything in a very stale and short answer.

and then i felt very nervous. i feel threatened and i feel like building fence and wall between us.

it can not be like this. i close my eyes. and start to make conversation with my own head.

” what did you think of her?”

“i..like her..really..”

“so why didn’t you tell her?she’s in front of you now”

“i..want to do that..but what if after i told her that..she could not accept it..and run away and never came back?”

“that’s the probability,but it’s okay..why don’t you try it?”

“i..don’t have the courage to destroy our friendship by saying that..”

“you just denying yourself by doing that you know..”

“yeah..really..”

“it would not change a thing..even if you stay quiet about everything she’s still be gone someday..it’ll be right if you told her now..”

“you right..why not..”

and i open my eyes,and i saw her standing in front of me. she’s looks like she’s ready to say goodbye.

i put my courage and asked her,”dear my expectation,i like you,i don’t want anything change between us,although saying this change everything. all i know that i feel very comfortable whenever i am with you.”

..and that’s when everything started fade into morning as i woke up and realise,that i have fallen into her.

2011

Once there’s a man locked up in a beautiful and comfortable prison.

This prison serves him anything.  

He can jump or bend.

walk or run.

Sleep or eat.

Laugh and cry.

 He thought he did something but he don’t.

He faced every same thing everyday.

He can face it with anger.

Or he can face it with smile.

It doesn’t matter.

He still locked up.  

he can see the clocks ticking.

He can see the calendar change.

he can feel the scorching sun or the coldest rain.

But he can’t read the time.  

sooner or later,he’ll get used to it.

Slowly but sure,he was lost in his own mind.

he doesn’t know.  

Happiness or sadness.

It’s all the same madness.

Which evil is sanity.

Which good is insanity.

A bitter  

Or a sweet

Is the same plain flavour for him.  

he never realized anything.

until he faced himself to himself.

And then he realized he,wanted to get out from  those prison.  

he ran through the door but

a white hair,

a broken nail,

a wrinkled skin,

and the death awaits.

hitungan

“satu dua tiga empat lima..”

aku mencoba memejamkan mata yang teramat lelah. empat puluh delapan jam dilewati dengan menatap layar monitor penuh huruf , angka , margin. ribuan miligram kafein mengalir deras dalam darah dan sisa sisa nikotin kini menghitam mengotori sudut sudut paru paru.

“enam tujuh delapan semblian sepuluh..”

ruangan ini terlalu dingin untuk berhadapan dengan jeans usang dan baju legam penuh bau asap. tapi peduli setan aku sudah teramat lelah untuk bergerak. tubuh terasa seperti berputar di ruang gelap.

“sebelas..”

wajahku terhempas ke sisi trotoar jalan. mereka berjalan tanpa peduli. aku hanya menatap kosong. satu jam dua jam tiga jam satu hari dua hari tiga hari satu minggu dua minggu tiga minggu satu bulan dua bulan tiga bulan satu tahun dua tahun tiga tahun.

“dua belas..”

tidak ada yang peduli. alang alang mulai tumbuh tinggi menjulang diatas kepalaku. senyuman dan tatapan mata bahagia menempel dengan debu merah dari tanah.

“tiga belas..”

engkau tidak pernah ada. aku selalu sendiri.

“empat belas..”

selamanya.

“lima belas..”

seseorang berteriak tentang pukul delapan.aku terbangun diruang gelap tanpa jendela.

a short paragraph of benign

it’s far alma. yet you feel close kinan. we could not see or even glimpse at each other. nor we could breathe the same air. they took our life away. as we surrender ourself into form of velocity. speaking in some manner of lyrics in medium volume wave.walking in white pointer across the sea of us,pixelate in black and white. in term of our agreement,we locked ourselves in prison build in six cross eight fucking hundred. such a failure. such an accomplice. blistered and bleed in some crappy textual letter in silly helvetica font. here,i wish you died,alma. here,i wish you killed yourself,kinan. so us can sit,together again.

ucapan

setiap ucapan menjadi pertanyaan repetisi.

raut wajahmu membeku pasi.

setiap suara adalah distorsi mengikis.

semuanya jawaban terlihat retoris menurun secara analogis.

hal yang kuhampiri.

tidak pernah menjadi apa yang kucari.

tak pernah aku memiliki.

tak lelah aku bertanya sendiri.

tak usah mencarinya.

karena takkan usai ditanya.

tak usah dipercaya.

karena takkan usai mencoba memperdaya.

pergi.

angkat kaki dari sini.

tidak jauh lagi kau sampai.

di tempat yang tidak ingin kau gapai.

let me ask you something

A: does it bother you when you see yourself standing in the mirror in the most cold dark and damp room knowing that you’re getting older and older by the day and you realize that you are not who you wanted to be, screwed up and lonely with no one ever looked at you after all this time grueling and then you realize that everything you did is the most inept thing that does not bring you anywhere and furthermore just make you uglier creepier freakier and cynical and then you then realize that it makes no difference whether you live or die in fact it seems you better off dead and then you asked yourself why did you even deserve this whole repulsive life ? 

takdir berkata lain

kamu

tidak perlu berkata 

karena

aku

tidak butuh

harapan,

ketika harapan adalah

hanya

berbentuk suatu

keinginan

dengan tangan

hampa.

kamu

mungkin diam

ketika

aku

butuh

harapan,

ketika harapan adalah

hanya

sesuatu yang 

tak terbentuk.

kamu 

boleh

marah.

kamu

boleh 

memaki.

kamu

boleh 

membenci.

kamu 

boleh

pergi.

tapi

aku

tak bisa

apa apa

ketika memang

aku

tidak bisa

memilikinya.

jatuh kedalam

hari itu aku berjalan di ujung blok gedung,melihat langit kelabu setengah merah jambu,dan tahu bahwa semuanya akan berakhir.

aku melompat,jatuh turun dari atas,melayang perlahan seperti burung walet dengan jarak pandangan satu meter dari aspal panas yang sudah mulai patah dan berkerak.

aku menuju satu tempat terakhir sebelum semuanya tutup,sebuah pusat perbelanjaan.

semuanya sudah berantakan,gelap,hanya ada beberapa yang berusaha berjualan untuk yang terakhir kali. aku melihat sebuah sepatu boots dan jaket kulit dengan hoodie. dengan sisa uangku,aku membelinya lalu memberikan sisanya kepada seseorang yang sepertinya membutuhkan untuk memuaskan nafsunya untuk terakhir kali.

aku terlihat seperti apa yang aku mau. kemudian aku mengambil sebuah mobil sedan panjang tua dan berkendara sendiri diantara orang orang yang berlari dalam kekacauan penuh dengan senjata senjata yang meletus dari para tentara,gedung gedung lusuh dan banyak yang hampir runtuh hingga akhirnya aku menemukan sebuah jembatan di tengah sungai yang dijaga banyak petugas.

aku diperbolehkan menyebrang,lalu dengan sisa bensin,aku mengemudikan tetapi sayang,aku terlambat,jembatan itu runtuh dan aku jatuh kedalam sungai.

aku menendang nendang kaca belakang mobil tetapi kaca itu tetap tidak mau terbuka,aku juga tidak bisa membuka kaca samping mobil. kulihat di sekitarku,banyak sekali mobil yang tenggelam dan dalamnya air semakin lama semakin membuat cahaya makin gelap dan temaram.

aku tahu aku akan mati kehabisan udara di dasar sungai.aku sudah pasrah.sayangnya,mataku terbuka di tengah kegelapan pagi,suara motor dan dinginnya pendingin ruangan.

aegri somnia

pagi itu matahari tetap merekah,meskipun puluhan botol bir,ratusan pil penghilang rasa sakit kepala,ribuan filter rokok dan gelas kopi sudah dia habiskan dan berharap hari esok tak datang.

pagi itu matahari tetap merekah,meskipun dia sudah menghabiskan malam yang sama selama dua tahun dalam mimpi mimpi absurd penuh dengan pengharapan bahwa sesuatu akan datang,entah tidak tahu apa atau siapa.

pagi itu matahari tetap merekah,meskipun dia sudah bersujud dan berharap,tetapi tidak ada yang menjawab,ketika dia berhenti bersujud tetapi tetap tidak ada yang memanggilnya kembali,dan ketika dia marah dan mengumpat tetapi tetap tidak ada yang membalasnya.

pagi itu matahari tetap merekah,dan dia sudah lelah berada di sudut kehancuran tanpa hancur sama sekali. kemudian dia memutuskan untuk keluar dari sudut dan berhenti menghancurkan dirinya sendiri,berharap bahwa dengan menghadapi dunia luar maka dunia akan menghancurkannya lebih cepat.

pagi itu matahari tetap merekah,ketika dia melihat keluar dan dunia yang tidak kunjung hancur oleh uang,nafsu,atau kekuatan. semuanya masih sama, penuh ketidakpastian dan sesemu kekosongan. dan menyisakan satu yang nyata;berakhir pada ketiadaan.

pagi itu matahari tetap merekah ketika pada akhirnya dia mengucapkan beberapa patah kata sebelum dia mencoba melompat ke dalam kenihilan.

 

Vita brevis breviter in brevi finietur,
Mors venit velociter quae neminem veretur,
Omnia mors perimit et nulli miseretur.
Ad mortem festinamus peccare desistamus.